<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Apr 27, 2005
Dunia dari Balik Sebuah Jendela

Dari meja kerja saya, tiga puluh derajat ke arah kiri, adalah deretan jendela kaca yang dapat dibuka-tutup mengundang semilir angin. Jauh dari balik kaca jendela itu, tampak perbukitan hijau-biru merajai pandangan. Bukan gedung-gedung bertingkat seperti di Jakarta. Saya memang bukan di Jakarta. Saya bekerja di Jatinangor.

Mmm, pernah ke Bandung? Bila perjalanan kita teruskan ke arah luar kota, menuju Kabupaten Sumedang, maka tak lama dari perbatasan kota Bandung, pada jalan raya Bandung-Sumedang, kita akan menemukan sebuah lanskap kecil Jatinangor. Padanya ada kampus STPDN (yang fenomenal itu), persis setelahnya kampus Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN), lalu Universitas Winaya Mukti (UNWIM), Universitas Padjajaran (UNPAD), lantas sudah benar-benar masuk luar kota

Lanskap Jatinangor, konon memang diperuntukkan bagi lahirnya sebuah kota pendidikan di Jawa Barat. Tapi, ah, di sini begitu crowded, arus lalu lintas antar kota amat padat dengan bus besar, truk-truk raksasa pengangkut barang, angkutan kota, hingga seliweran sepeda motor. Sementara jalannya amat kecil!

Kantor saya terletak di lantai dua gedung DIII IKOPIN. Mungkin tidak terlalu populer, meskipun ini satu-satunya kampus bidang manajemen koperasi setelah Akademi Koperasi (AKOP) tidak lagi berdiri di beberapa provinsi. Oh ya, saya bukan bekerja untuk IKOPIN kok… Saya bekerja untuk Lembaga Pendidikan Perkoperasian Nasional (LAPENKOPNAS) yang bernaung di bawah Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN).

Mmmh, koperasi kedengaran asingkah di telinga kita? Sulit dipungkiri, memang iya. Setiap saya mengatakan bekerja untuk koperasi, maka anggapan orang adalah KUD atau koperasi simpan pinjam!

Profesi saya sebagai trainer perkoperasian juga sama asingnya dengan bidang koperasi itu sendiri. Tidak banyak orang yang dapat memahami apa pekerjaan saya. Eh, saya juga menulis untuk website LAPENKOP lho… Kalau menulis mungkin tidak terlalu asing kan?

Entahlah, sebagian besar semangat dan itikad saya tercurah besar untuk persoalan Usaha Kecil dan Koperasi. Benar-benar membuat saya dapat merenung atau berpikir lama dan dalam. (Deueueu!) Selalu meninggalkan kesan dalam bagi saya setiap menjumpai hal-hal kecil hingga besar tentang usaha kecil yang dijalankan oleh  “orang kebanyakan”. Tengok saja pedagang kecil di pasar-pasar di kota-kota, PKL, petani di desa, pengrajin… Semua membuat saya terinspirasi dan berpikir diam-diam…

Tak ada gemerlap dari apa yang tengah saya tekuni. Tak ada uang bergelimang atau lejitan karir, atau popularitas profesi. Sangat suram-sunyi…

By the way, sesungguhnya sebagian dari diri muda saya juga menginginkan apa yang saya tidak pilih dan tidak miliki; kecukupan uang gaji atau keuntungan, jalan karir yang terus menanjak, juga popularitas… Nyatanya, sampai hari ini pilihan saya tidak di sana. Sungguh saya masih punya waktu untuk memilih. Waktu yang semakin pendek untuk memutuskan sebuah jalan karir dan penghidupan. Dan saya belum memutuskan hal lain kecuali menikmati sunyi senyap dunia koperasi saya.

Hingga hari ini saya masih hadir ke tempat ini. Duduk setiap pagi di meja saya, menyalakan komputer, melongok ke dua tempat melalui dua jendela; satu ke alam maya, satu ke arah perbukitan yang tampak hijau biru di kejauhan… Di alam maya inilah kita dapat berjumpa bukan? Lantas saya bercerita tentang dunia saya padamu…


Posted at 09:46 am by anggraeni
Comments (7)  

 
Apr 18, 2005
Mencintai Produk Dalam Negeri

Saya senang kalau Pak Sri Edi Swasono datang ke kantor. Karena itu artinya akan ada makanan kecil atau berat yang khas Indonesia. Karena kantor kami yang beroperasi untuk jaringan nasional terletak di Jawa Barat, maka hidangan yang dimaksud biasanya adalah bandrek-bajigur, pisang kukus, kacang rebus, getuk (gegetuk), klepon (kelepon) dan sebagainya. Terbit selera saya melihat makanan kecil beralas daun pisang dengan taburan kelapa parut di atas nyiru (nampan bamboo, tampah), dsb. Itu kan makanan yang luar biasa enak bagi lidah saya!

Pak Edi memang sangat idealis, juga patriotis. Beliau selalu meningatkan saya pada sosok Hatta. Bung Hatta! Pak Edi jelas akan menolak makan bila yang dihidangkan adalah makanan dan minuman “asing”. Katakanlah roti atau coca-cola. Wah, jangan harap bakal disentuh. Alih-alih dinikmati, besar kemungkinan penyelenggara akan dceramahi panjang lebar tentang bagaimana mestinya kita dapat mencintai produk dalam negeri.

Sebenarnya, sudah lama saya mengetahui selera Pak Edi akan makanan ini. Waktu itu sekitar tahun 1999 akhir, atau 2000 awal ya…? Saya kurang ingat persis. Yang jelas saat itu saya jadi MC Seminar Nasional Perkoperasian yang diselenggarakan Koperasi Mahasiswa UGM di Grha Saba Pramana. Pak Edi melontarkan hal yang sama tentang makanan dan kecintaan terhadap negeri sendiri. Itulah pertama kalinya saya mengetahui “selera” beliau.

Awal Februari 2005, saya juga mendengar pernyataan serupa di Pendidikan Lanjut Perkoperasian Koperasi Kopma UGM. Saat itu saya memoderatori sesi siang untuk Pak Thoby Mutis, Pak Ahmad Ma’ruf dan Pak Revrisond Bazwir. Pak Revrisond batal hadir karena sakit saat itu.

Maka, saya tersenyum diam-diam dengan haru dan bangga ketika 13 April tahun ini, lagi-lagi Pak Edi mengemukakan hal yang sama di Hotel Horison Bandung saat jeda Lokakarya Koperasi dan UKM yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan UKM Jawa Barat dan JUK-DEKOPIN. Saat itu saya meliput acara untuk website JUK dan LAPENKOP. Saya mengangguk kuat-kuat ketika Mas Pandu, senior saya dari JUK Jawa Tengah berbisik mengomentari Sri Edi Swasono yang berdiri tegak di mimbar dengan pidatonya.”Favoritku!”. Ya, dia favorit saya juga!

Dan saya merasa bersyukur bahwa beliau kembali ke DEKOPIN sebagai pejabat Ketua Umum. Alamat bakal sering bersua (walaupun Pak Edi tidak kenal saya sampai hari ini) dalam kepentingan gerakan koperasi. Alamat bakal merasa “segar-bugar” hati dan pikiran mendengar pemikirannya yang luar biasa. Alamat akan sering ada makanan khas daerah Parahyangan yang saya gemari…


Posted at 04:16 pm by anggraeni
Make a comment  

 
Apr 12, 2005
Kota Ciamis, Jatinangor & Tata Kota
Beberapakali saya melewatinya. Lalu, saya jatuh cinta begitu saja. Saya jatuh cinta pada kota Ciamis. Awalnya saya kurang menyadari kalau kota ini menarik. Lantas secara bertahap, saya mulai menemukan alasan-alasan. Trotoar lapang dan nyaman yang mendominasi mayoritas jalan-jalan, rumah-rumah pinggir jalan dan lingkungan yang relatif rapi dan asri, lalu... ini dia; tidak ada pedagang kaki lima di sepanjang trotoar yang ada! Dimana mereka? Kata sahabat saya orang Ciamis, kawan di asrama Yogya dulu, ada tempat khusus buat PKL di Ciamis. Oh!Bagus sekali!
Betapa berbeda dengan Jatinangor. Suatu malam sepulang dari kantor, saya berjalan-jalan menghilangkan suntuk, berniat mencari novel di taman bacaan. Jalan kaki dari kost saya di wisma Kan-Kan, seberang KKBM, IKOPIN sampai ke UNPAD. Jalan kaki sendirian.
Betapa tak nyamannya berjalan di tengah PKL yang memadati trotoar, tak beraturan. Lubang, cekungan atau patahan di jalan dan trotoar menambah ketaknyamanan itu. Dan saya mesti berhati-hati, supaya tidak tersenggol kendaraan bermotor yang juga memadati badan hingga bahu jalan. Aduh! Hujan sore-sore menyisakan kubangan air dan becek dimana-mana... Aduh, ini kan kawasan pendidikan? Mengapa saya tak merasakannya?Bahkan Taman Bacaan saja, saya tak berhasil menemukannya di sepanjang jalan yang saya lewati. Melulu yang saya temui justru gerai ponsel dan kelengkapannya!
Tapi saya mulai betah di sini. Di Jatinangor. Sakit rindu saya pada asrama di Jl. Kartini dan jalan-jalan di Yogyakarta berangsur sembuh.
Kalau soal cinta saya pada Ciamis, rasanya makin menguat saja. Coba saya kaya raya, maka sebidang tanah dan rumah harus saya miliki di kota itu... Saya ingin tinggal di sana!



Posted at 06:12 pm by anggraeni
Comment (1)  

 
Sep 18, 2004
Mereka yang Berjuang Gigih

Namanya Indri. Usianya sekitar 19-20 tahun. Gadis berpenampilan nJawani ini sangat beruntung dan hebat menurut saya. Pada usia belia, dia menjadi saksi atas kegigihan ibunya menghidupi keluarga melalui kerajinan tangan tas crochet di Kulon Progo, Yogyakarta. Saat itu tahun 80an. Nyaris semua orang menganggap upaya itu sebagai useless dan tidak prospektif. Tapi... nyatanya, saat ini keluarga mereka mengkaryakan ratusan orang di desa mereka sebagai tenaga kerja lepas bagi produksi tas crochet (berbahan baku alam). Pasarnya toko-toko souvenir besar di Yogya dan Indonesia hingga merambah mancanegara! Indri berpenampilan sederhana, rendah hati, beraut muka ramah, bersuara tulus, tapi sigap dan tangkas dalam urusan bisnis. Sejak SMP Indri biasa ikut sang ibu ke pelatihan-pelatihan teknis kerajinan tangan atau forum sejenis lainnya, juga menjaga stan di pameran.

SMU dia sudah mewakili ibunya ke Singapore selama setengah bulan untuk pameran produk. Dia.... Bukan main!
Sekarang Indri menempuh pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun ke dua. Dia bilang, dia gagal menembus Hubungan Internasional dan Ilmu Komunikasi UGM tahun 2003. Tujuannya di USD jelas, menguasai bahasa internasional ini demi mengembangkan usaha sang ibu. Indri mengambil pilihan hidupnya di jalur bisnis handycraft skala "serius" dengan sadar dan optimis. Bila berkenan dan berkesempatan, berkunjung saja ke desanya yang telah menjadi desa wisata itu. Dia selalu mengatakan; dengan senang hati akan menerima kedatangan kita ke rumahnya; sekedar silaturahmi, melihat-lihat, bahkan belajar membuat tas crochet. Di benar-benar baik hati!
Saya bertemu dengannya pada sebuah acara Kementrian Negara Koperasi di Hotel Bintang Fajar Yogyakarta Agustus ini.


Posted at 06:24 pm by anggraeni
Make a comment  

 
Sep 3, 2004
Perempuan di Ranah "Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi"
Saya tercengang ketika memasuki ruangan sebuah forum bagi alumni peserta diklat keterampilan teknis yang diselenggarakan Kementrian Negara Koperasi baru-baru ini di Yogyakarta. Sembilanpuluh sembilan prosen koma sekian, pesertanya adalah perempuan! Bahkan, narasumber testimonial, adalah seorang perempuan, putri Ny. Sumirah yang sukses dengan tas crochet di Kulonprogo. Demikian pula, Ibu Doly adalah nama pengusaha sukses handycraft Yogyakarta, yang di ruangan itu disebut sebut lebih dari belasan kali. Maka, saya duduk sambil mencoba memahami semua ini. Saya mulai meralat asumsi saya selama ini; bahwa entrepreneur adalah wilayah yang maskulin dan "milik" kaum laki-laki saja. Asumsi ini sebenarnya tidak berlebihan. Bagaimana tidak, jika secara empirik, saya dua kali di"tohok". Pertama, sewaktu saya mengikuti seleksi BDS BUDBIN Swisscontact, dimana kelompok saya dan satu kelompok lagi dari UAD adalah "the only two" calon BDS dengan manajer perempuan. Belasan calon BDS lainnya dipimpin oleh laki-laki. Dalam ungkapan lain, kami hanya 3 orang perempuan di tengah empatpuluhan laki-laki yang merupakan peserta seminar calon BDS di Hotel Melia Purosani setengah tahunan yang lalu. Pengalaman kedua adalah ketika saya melalui GIM Training Centre mengadakan forum kewirausahaan bagi mahasiswa di Yogyakarta. Dari tigapuluhan peserta, hanya satu perempuan yang hadir sebagai peserta! Nah, kan?! Kembali ke permasalahan semula, kemudian saya memang semakin memperoleh informasi bahwa ada banyak usaha yang sukses digeluti oleh perempuan. Sewaktu magang LAPENKOP di Jatinangor, kami sempat berdialog dengan sebuah koperasi wanita di Purwakarta yang dinilai sukses. Lalu, ibu Abih, mantan pelatih BALATKOP DIY, bercerita pada saya, bahwa koperasi wanita "KARTINI" di Sleman, dan sebuah koperasi wanita di Surabaya (aduh, maaf lupa namanya!), adalah sedikit contoh dari cerita sukses lainnya koperasi yang dikelola oleh perempuan. Fakta perempuan bergiat --bahkan sukses-- di ranah ekonomi mikro, kecil, menengah dan koperasi, memaksa saya untuk mempertanyakan asumsi marjinalisasi ekonomi, pemiskinan secara ekonomi terhadap perempuan dalam analisis jender. Saya jadi berhati-hati untuk menerimanya mentah-mentah. Maka, saya mencoba mengurai dan memahami semua itu menjadi satu analisis sederhana. Menurut hemat saya, begini... Perempuan mengerti dan sadar, bahwa mereka punya tanggungjawab besar di ranah domestik. Pekerjaan rumah termasuk mengurus anak merupakan "wilayah kerja" yang identik dengan perempuan. Maka, secara sadar, perempuan otomatis terjun di wilayah kerja ini ketika mereka mulai menjadi seorang ibu rumah tanga. Namun demikian, kondisi ekonomi keluarga yang notabene dicoba ditegakkan oleh laki-laki (suami) dengan bekerja, ternyata tidak selalu mencukupi, apalagi berlebih. Realita inilah yang menjadi faktor pendorong utama bagi perempuan untuk memutuskan turut bergerak menopang ekonomi keluarga melalui aktivitas usaha yang "terjangkau". Sebut saja usaha-usaha home industry yang biasanya dicakup dalam term UMKMK (Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi). Alasan apalagi jika bukan kondisi ini yang membuat perempuan bergerak di ranah ekonomi? Bukankah UMKMK tidak menawarkan prestise dan gemerlap jenjang karir serta kekuatan jabatan? Sebuah posisi kekuasaan yang sensitif, dan karenanya menjadi "pertengkaran" dalam konteks jender! Bukankah ini yang selalu "diperebutkan" laki-laki dan perempuan di ranah publik khususnya yang menawarkan gengsi dan power? Perenungan saya terus terang, belum usai. Baru sampai di sini. Tapi, prinsipnya, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya tergelitik dengan fakta perempuan yang bergelut dan sukses di ranah UMKMK. Dan ini menjadi titik kecil kontras pada sebuah medium sosial yang didominasi warna analisis jender dimana salah satu asumsinya adalah pemiskinan secara ekonomi terhadap perempuan oleh kaum laki -laki!

Posted at 03:58 pm by anggraeni
Make a comment  

MENELADANI PEDAGANG TIONGHOA
"Mugo-mugo laris... asal sabar lan telaten (semoga laris, asal sabar dan telaten)", demikian tercetus dari mulut Nyonya --pedagang perkakas etnis Tionghoa di Pasar Beringhardjo, Yogyakarta-- ketika saya menerima kembalian untuk uang yang saya bayarkan. Saya dan Bahtiar --teman bisnis saya-- berbelanja beberapa perkakas untuk keperluan "angkringan" siang itu. Angkringan adalah warung makan sederhana, didisplay pada sebuah gerobak khusus, dengan sajian nasi bungkus dan aneka gorengan, minuman, makanan ringan... sangat khas di Yogyakarta. Saya pernah menjumpainya di tempat lain, di bilangan Surakarta/Solo. Entah di tempat lainnya lagi. Kadang orang menyebutnya sebagai “warung koboi”. Biasanya orang jajan sambil sekalian nongkrong dan ngobrol di angkringan. Umumnya laki-laki. Di Yogyakarta, angkringan menyatukan berbagai lapisan masyarakat karena harganya yang sangat murah. Mahasiswa, dosen, aktivis, seniman hingga pengayuh becak dan supir bis kota, biasa makan di angkringan yang mudah dijumpai di kota ini. Media mahasiswa UGM BALAIRUNG --yang kini berbentuk jurnal-- pernah mengangkatnya dalam tema besar ekonomi kerakyatan. Mereka mengupas tuntas ekonomi angkringan yang notabene ekonomi “wong cilik” dalam bahasa “sosiologis lokal” (maaf kalau keliru, ini istilah saya) atau ekonomi skala mikro dalam bahasa pembangunan di negeri ini. Kami, yaitu saya (Anggraeni LAPENKOP), Bahtiar (mahasiswa lulusan Teknik Nuklir UGM dan sekaligus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fauzul ( aktivis pemutaran film LOVE CREATOR sekaligus adik angkatan saya di Ilmu Komunikasi), Iqbal (mantan aktivis pers mahasiswa UGM “BALAIRUNG”), Ahmad Ma’ruf (Dosen Fakultas Ekonomi UMY sekaligus mantan aktivis koperasi mahasiswa), Yorri (Aktivis LSM di Parliament Watch Indonesia/PARWI), Ardi Hamzah (Peneliti dan Penulis di lembaga non pemerintah kebijakan Publik “INSPECT” sekaligus mahasiswa S2 Ekonomi UGM). Kami bertujuh. Kedengarannya basis mereka “serem-serem”. Padahal kesemuanya adalah teman-teman saya yang kerap culun, gokil, konyol dan asyik… Kami teman sepermainan di Yogyakarta. Melalui angkringan, kami ingin membikin satu bisnis yang berbasis komunitas. Segmen kami adalah teman-teman kami yang punya kebiasaan ngobrol, diskusi, rapat malam-malam hingga dini hari. Angkringan kami mewadahi kelompok-kelompok semacam itu, sebagai konsumen. Sesekali dalam seminggu kami akan menggelar diskusi bersama kecil-kecilan di warung angkringan kami dengan mengangkat tema khusus. Ah, ya, balik dulu ke soal Nyonya --pedagang perkakas di Pasar Beringhardjo, beretnis Tionghoa-- Saya terkesan dengan kata-kata Nyonya. Dia tahu kami hendak membuka usaha kecil angkringan. Saya merasa, apa yang dikatakannya tentang sabar dan telaten adalah sesuatu yang dalam. Bagi saya, apa yang dikatakannya merepresentasikan apa-apa yang telah dikerjakannya dalam berdagang. Bukan sembarang kata dan asal bicara. Ia telah melakoninya! Saudara-saudara kita etnis Tionghoa selalu mempesonakan bagi saya. Spirit kerja mereka... bukan main! Setidaknya itu yang saya lihat. Lebih-lebih etnis Tionghoa di Yogyakarta. Mereka benar-benar Jawa! Maksud saya, mereka berbicara dan bergaul dalam kultur Jawa. Keetnisan mereka lesap menjadi "etnis baru" Tionghoa-Jawa yang benar-benar khas menurut saya. Saya juga ingat, sekitar 12 tahun yang lalu, sewaktu saya masih SD, almarhum ayah saya yang juga pelaku usaha (kecil) pernah mendongengi saya tentang etnis Tionghoa. Kebetulan ayah punya beberapa kenalan dan tetangga yang Tionghoa. Dalam bahasa yang sederhana, supaya dapat saya pahami, ayah mengatakan bahwa orang-orang Tionghoa umumnya sanggup berhemat dan hidup sederhana. Taruh kata penghasilan mereka seribu sehari, maka, mereka akan membelanjakan –umpamanya-- 500 rupiah untuk segala keperluan sekeluarga dalam sehari. Kemudian, jika penghasilan mereka naik menjadi 2000 rupiah sehari, mereka tetap akan mengkonsumsi senilai 500 rupiah sehari. Kata ayah, umumnya kita tidak begitu. Jika penghasilan kita naik, maka konsumsi kita juga cenderung naik. Entah mengapa apa yang dikatakan almarhum ayah membekas di ingatan saya hingga hari ini. Barangkali karena sejak SD saya tertarik dengan berdagang. Saat itu, saya biasa membawa penganan kecil ke sekolah untuk di jual saat jam istirahat tanpa merasa malu. Nyonya di Beringhardjo sudah uzur, tapi gesit melayani kami dengan bahasa Jawanya yang fasih. Dengan tegas namun ramah dia bilang harga-harga di tokonya pas. Tidak bisa ditawar. Saya salut dengan pendekatan dagang Nyonya, karena harga di tempatnya sebenarnya terhitung murah. Kami sudah survey ke tempat lain. Saya sesekali berbisik pada Bahtiar, menanyakan sekawan dan gangsal itu berapa? Walaupun sudah enam tahun di Yogya, kadang saya kebalik-balik membedakan sekawan dengan gangsal dan sewidak. (Empat, lima, dan enampuluh). Nyonya juga mentest 3 cerek seng yang kami beli dengan menuang air ke dalamnya. Tidak bocor, gumamnya. Terakhir, dia memberi bonus gratis sebuah kipas bamboo ketika saya memutuskan untuk membelinya. Saya makin terkagum-kagum. Nyonya tua ini benar-benar professional. Sebelum beranjak, saya mengamati toko tuanya yang penuh sesak dengan barang dagangan --rongsok/bekas dan baru--namun tertata rapi dan bersih. Sebelum pulang kami naik ke lantai tiga, membeli tungku dari tanah (anglo) dari seorang pedagang pribumi. Menuruni tangga Beringhardjo saya tercenung-cenung memikirkan semuanya. Bahtiar mencetus sambil terkekeh. ”Kamu ingat ucapan Nyonya tadi tidak? Kita didoakan supaya dagangan kita laris”…. Saya ikut terkekeh. Seorang kuli pasar tebungkuk-bungkuk menaiki tangga dengan bawaan berat di punggungya, hampir menabrak kami. “Lihat, setiap hari fisik dipaksa begitu, apa tidak hancur”, bisik saya sambil memperhatikan lelaki paruh baya kuli angkut di Pasar Beringhardjo yang hampir menabrak kami. Begitulah… Perbincangan kami terus bergulir seputar rencana angkringan kami yang hendak launching Satu September. Mudah-mudahan saya selalu ingat petuah Nyonya… Mestinya laris, kalau kami sabar dan telaten…

Posted at 03:50 pm by anggraeni
Comment (1)  

 
Aug 23, 2004
agustusan


tadi aku melintasi gang-gang dan jalan-jalan sekitar asramaku
pada sebuah gapura aku mendongak lama
: pada lampu-lampu aneka warna
dan belasan bendera mungil merah putih
yang berkibaran

Hmmm,
dua tahun yang lalu aku turut merangkai bendera-bendera mungil semacam itu.
Lantas memasangnya di jalan-jalan kampung dengan sedikit heroik, bersama beberapa kawan, malam-malam.
Saat itu Kuliah Kerja Nyata.
Jadi, ehm, maaf, sebenarnya lebih karena program.

Sejujurnya, sudah lama aku tidak terjerat semangat tujuh belasan, setiap tujuh belas Agustus

Tapi aku warga negara yang baik
: tidak berbuat kriminal
tidak berlaku separatis
dan dengan sungguh-sungguh bercita cita
"menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa"
sedari dulu.


Posted at 09:44 am by anggraeni
Make a comment